We had a big fight this morning.
One of a girl in my class whose his ex's friend asked him, "Why did you send me a message last night?" She asked him dengan senyum centilnya.
Dia membalas dengan nada kecil yang sulit kutangkap.
Me, who was exactly sitting behind him only could smile dan kembali memasang headset-ku.
Tidak ada satupun diantara aku dan dia yang berbicara setelah kejadian itu.
Kami hanya terdiam dan saling memandang.
Tidak ada yang mengutarakan kalimat ataupun kata satu sama lain.
Saat bel berbunyi, aku bergegas segera pulang. Aku dan temanku berjalan di lorong dengan dirinya yang berdiri mengikuti dibelakangku.
"Kenapa ngga pulang sama dia?" Tanya temanku.
"Tanya aja dia, emang dia mau nganterin gue pulang hari ini."
Temanku bertanya padanya, "Di, 'dia' pulang sama lo ya?" Dia hanya membalas dengan gelengan.
Dia tidak memperdulikanku.
Aku melihat dirinya mengeluarkan motor Yamaha-nya yang mempunyai suara serta helm yang khas. Plat nomor yang kuhafal.
Dia melihat ke arahku.
Aku terlalu malu dan bingung untuk menatapnya.
Aku membuang wajah dan berdiri di pinggir jalan seakan-akan tidak peduli padanya.
Tiba-tiba motor yang selalu kunanti itu berhenti di hadapanku, "Jangan kayak anak kecil. Bulan depan kamu 18 tahun. Naik, aku antar pulang."
Karena merasa luluh aku naik dan tiba dirumah. Selama perjalanan kami tidak ada yang berbicara.
"Makasih untuk tumpangannya." I said, but he stopped me.
"Lain kali jangan begitu. You're the only one that I see."
He closed his helmet and left me dazed.
No comments:
Post a Comment