Tanganku diam tak berdaya.
Deringan telepon yang tak mampu kumatikan,
hanya dapat membuatku tertegun.
Sungguh,
Apa ini kebetulan?
Apa Tuhan sudah merencanakannya?
Atau ini memang sebuah takdir Tuhan yang terencana.
Aku bermimpi tentangmu dua malam ini.
Aku bermimpi kita duduk bersama dalam satu ruangan.
Aku bermimpi kamu memelukku erat tak mau melepaskan.
Aku bermimpi kamu memberiku kecupan di kening.
Aku bermimpi... bermimpi... dan bermimpi.
Sekali lagi aku tersadar, ini hanyalah mimpi.
Tapi Tuhan memberiku sesuatu.
Saat aku hendak menangis pagi ini, kamu menghubungiku.
Satu kalimat yang membuatku tercengang.
Walaupun tak bermakna bagimu, tapi itu bermakna banyak bagiku.
Kamu tahu?
Aku merindukan kita yang dulu.
Kita yang selalu ada satu sama lain.
Aku tahu kini kita telah berubah, memutuskan untuk menempuh jalan sendiri.
Tapi disini, aku masih diam tak bergerak untuk menunggumu kembali.
Kamu kembali.
Tapi hanya untuk sementara.
Waktu 15 menit hari ini sudah cukup bagiku.
Terimakasih karena kamu sudah menyadarkanku.
Karena aku masih belum bisa melupakanmu, x.
No comments:
Post a Comment