BAB
1... PERMULAAN
Osaka, Jepang 16 Desember 2011.
Cuaca
di Osaka saat ini sedang dalam puncak paling parah. Penerbangan domestik maupun
internasional semuanya ditutup dikarenakan cuaca yang buruk. Badai salju tidak
berhenti mengguncang Osaka sejak kemarin, hal ini membuat para penduduk lebih
memilih untuk tinggal dirumah sambil menyalakan heater. Toko-toko di daerah
Dotombori juga ditutup oleh para pemiliknya. Osaka sudah seperti kota mati saja
sejak kemarin.
Damara
menyalakan heaternya dan membungkus dirinya dengan selimut Micky Mouse-nya. Ia
duduk di depan TV sambil memantau perkembangan kota Osaka yang sudah tertimbun
salju sejak Jum'at kemarin. Salju setinggi 1 meter itu membuat Osaka menjadi kota
tak berpenghuni. Ia mengganti- ganti channel TV-nya untuk mencari acara TV yang
bagus, tapi semuanya hanyalah berita tentang badai salju yang rupanya sedang
melanda seluruh wilayah Jepang. Ia tidak menyangka bahwa badai salju separah
ini akan terjadi di negara yang sudah ditempatinya kurang lebih 4 tahun.
Bel
apartement-nya berbunyi, yang menandakan ia kedatangan tamu malam ini. Damara
membebaskan dirinya dari kurungan selimut dan berjalan malas menuju pintu. Ia
mengintip siapa tamu yang datang kerumahnya pada saat seperti ini. Bibirnya menyunggingkan
senyuman saat ia mengetahui sosok siapa yang berdiri di balik pintu itu. Tanpa
pikir panjang lagi, Damara membuka pintunya dan melemparkan dirinya ke dalam
pelukan orang itu.
"Aku
merindukanmu," katanya.
Itulah kata pertama yang
diucapkannya saat ia melihat orang yang sangat ia rindukan saat itu.
"Aku juga
merindukanmu, Damara."Balasnya.
Damara melonggarkan
pelukannya dan mendongak untuk melihat wajah laki-laki yang berada tepat di
depannya.
"Ayo masuk, Osaka
sangat dingin. Bisa-bisa kita membeku kalau terus berdiri di luar." Canda
laki-laki itu, Damara hanya terkekeh dan menarik tangan laki-laki itu masuk ke
dalam apartement.
Laki-laki itu
menghempaskan tubuhnya ke sofa saat dia sudah berada didalam. Laki-laki itu
melepaskan jubah hitam panjang dan sarung tangan yang ia kenakan. Damara pergi
ke dapur untuk membuat coklat panas, sementara itu sang pria hanya duduk di
sofa sambil menunggu. Laki-laki itu benar-benar merasa akan membeku saat ia
sedang menuju kesini. Tak lama kemudian, Damara muncul dari dapur sambil
membawa 2 cangkir coklat panas.
"Apa kabarmu?
Bagaimana kamu bisa kesini?" Tanya Damara.
Laki-laki itu
tersenyum kemudian meminum coklat panas yang telah dibuat oleh Damara.
"Karena aku
merindukanmu. Dan sebentar lagi natal." Jawabnya.
Senyum yang tadinya
ada di wajah Damara, kini menghilang. Senyuman manis itu digantikan dengan
senyuman kecut dari bibirnya. Damara menghela napasnya dan berjalan menuju
dapur. Sosok laki-laki itu sepertinya menyadari bahwa mood Damara sudah berubah
saat dia menyinggung soal natal. Ia mengikuti Damara ke dapur yang sedang
menghangatkan sup ikan.
"Masih belum bisa
melupakannya?" Tanya laki-laki itu. Lagi-lagi Damara hanya menghela napas
dan menutup matanya sejenak.
"Aku rasa,
belum." Jawab Damara masih memejamkan matanya. Laki-laki itu terkekeh
mendengar jawaban Damara atas pertanyaannya.
"Ini sudah 5
tahun, Damara. Kenapa kamu harus terus mengingatnya? Dia sudah
tenang."
"Dia sudah, tapi
aku belum bisa melepasnya, Rei." Jawab Damara sambil menatap mata
laki-laki itu.
Laki-laki itu
mengalihkan matanya dari pandangan Damara, sedikit kecewa dengan jawabannya. Damara
memang merasa sedikit bersalah karena sudah mengatakan itu, tapi dia tidak
mungkin berbohong.
"Aku minta maaf
kalau jawabanku membuat kamu kecewa, tapi kamu juga harus mengerti aku, Rei."
Damara meyakinkan laki-laki yang ada di depannya ini.
Laki-laki itu hanya
tersenyum dan menepuk pundak Damara.
"Aku mengerti
kamu, dan aku akan selalu mencoba untuk mengerti. Tapi Aku mohon, ini sudah 5
tahun yang lalu, Ara. Aku ingin kamu membuka mata kamu. Lihat apa yang ada di
depan mata kamu."
Ia berjalan
meninggalkan dapur sambil mengucapkan kata yang tidak sempat ia ucapkan pada Damara
dan Damara tidak mungkin mendengar ucapanya,
"Aku
ingin kamu membuka mata kamu, sehingga kamu bisa melihat bahwa ada aku yang
selalu menunggu kamu, Ara." Gumam Rei.
Laki-laki itu kembali
ke ruang tamu dan duduk di sofa sambil menonton TV. Matanya tertuju ke TV, tapi
pikirannya melayang entah kemana. Otaknya tidak bisa berhenti berputar karena
ucapan Damara tadi. Bagaimana mungkin Damara masih belum bisa melupakan orang
itu, padahal ini sudah lewat dari 5 tahun sejak orang itu meninggalkannya.
"Rei, makan malam
sudah aku
hangatkan. Kamu makan sendiri saja ya, aku sudah mau tidur, besok aku harus ke kantor." Ucap Damara.
Rei menoleh dan
mengangguk. Tak lama kemudian alisnya bertaut karena bingung. Salju masih
setinggi 1 meter dan Damara akan pergi ke kantor? Bahkan bus saja masih belum
beroperasi hingga besok.
"Salju masih
tinggi, apa kamu yakin akan tetap ke kantor?" Damara tersenyum simpul dan
mengangguk.
"Aku hanya ada
rapat dengan klienku besok. Selesai rapat aku akan langsung pulang. Kamu bisa
menungguku sambil menonton DVD. By the
way, when will you go back to Korea?"
"After New Year, mungkin? Aku ambil cuti
panjang, jadi belum pasti akan stay di Osaka sampai kapan." Jawab Rei.
Atmostfer di antara
mereka agak sedikit canggung setelah percakapan mereka di dapur tadi. Damara
memilih untuk pergi tidur duluan dari pada harus memilih tema untuk menjadi
topik pembicaraan mereka. Dia sungguh merindukan sahabatnya itu, tapi dia
merasa tidak enak hati dengan sahabatnya itu karena hal tadi. Mungkin memang
seharusnya dia tidak perlu melarikan diri dari percakapan tadi.
Damara masuk ke
kamarnya dan mengganti pakaiannya dengan piyama. Damara menarik selimut hingga
mencapai dada dan mematikan lampu meja disampingnya. Dia menutup matanya dan
berfikir bahwa setidaknya natal tahun ini dia tidak akan sendiri lagi seperti
tahun yang sebelumnya.
No comments:
Post a Comment