11.27.2011

Impossible Love

BAB 1... PERMULAAN

Osaka, Jepang 16 Desember 2011.
 
Cuaca di Osaka saat ini sedang dalam puncak paling parah. Penerbangan domestik maupun internasional semuanya ditutup dikarenakan cuaca yang buruk. Badai salju tidak berhenti mengguncang Osaka sejak kemarin, hal ini membuat para penduduk lebih memilih untuk tinggal dirumah sambil menyalakan heater. Toko-toko di daerah Dotombori juga ditutup oleh para pemiliknya. Osaka sudah seperti kota mati saja sejak kemarin.
Damara menyalakan heaternya dan membungkus dirinya dengan selimut Micky Mouse-nya. Ia duduk di depan TV sambil memantau perkembangan kota Osaka yang sudah tertimbun salju sejak Jum'at kemarin. Salju setinggi 1 meter itu membuat Osaka menjadi kota tak berpenghuni. Ia mengganti- ganti channel TV-nya untuk mencari acara TV yang bagus, tapi semuanya hanyalah berita tentang badai salju yang rupanya sedang melanda seluruh wilayah Jepang. Ia tidak menyangka bahwa badai salju separah ini akan terjadi di negara yang sudah ditempatinya kurang lebih 4 tahun.
Bel apartement-nya berbunyi, yang menandakan ia kedatangan tamu malam ini. Damara membebaskan dirinya dari kurungan selimut dan berjalan malas menuju pintu. Ia mengintip siapa tamu yang datang kerumahnya pada saat seperti ini. Bibirnya menyunggingkan senyuman saat ia mengetahui sosok siapa yang berdiri di balik pintu itu. Tanpa pikir panjang lagi, Damara membuka pintunya dan melemparkan dirinya ke dalam pelukan orang itu.
"Aku merindukanmu," katanya.
Itulah kata pertama yang diucapkannya saat ia melihat orang yang sangat ia rindukan saat itu.
"Aku juga merindukanmu, Damara."Balasnya.
Damara melonggarkan pelukannya dan mendongak untuk melihat wajah laki-laki yang berada tepat di depannya.
"Ayo masuk, Osaka sangat dingin. Bisa-bisa kita membeku kalau terus berdiri di luar." Canda laki-laki itu, Damara hanya terkekeh dan menarik tangan laki-laki itu masuk ke dalam apartement.
Laki-laki itu menghempaskan tubuhnya ke sofa saat dia sudah berada didalam. Laki-laki itu melepaskan jubah hitam panjang dan sarung tangan yang ia kenakan. Damara pergi ke dapur untuk membuat coklat panas, sementara itu sang pria hanya duduk di sofa sambil menunggu. Laki-laki itu benar-benar merasa akan membeku saat ia sedang menuju kesini. Tak lama kemudian, Damara muncul dari dapur sambil membawa 2 cangkir coklat panas.
"Apa kabarmu? Bagaimana kamu bisa kesini?" Tanya Damara.
Laki-laki itu tersenyum kemudian meminum coklat panas yang telah dibuat oleh Damara.
"Karena aku merindukanmu. Dan sebentar lagi natal." Jawabnya.
Senyum yang tadinya ada di wajah Damara, kini menghilang. Senyuman manis itu digantikan dengan senyuman kecut dari bibirnya. Damara menghela napasnya dan berjalan menuju dapur. Sosok laki-laki itu sepertinya menyadari bahwa mood Damara sudah berubah saat dia menyinggung soal natal. Ia mengikuti Damara ke dapur yang sedang menghangatkan sup ikan.
"Masih belum bisa melupakannya?" Tanya laki-laki itu. Lagi-lagi Damara hanya menghela napas dan menutup matanya sejenak.
"Aku rasa, belum." Jawab Damara masih memejamkan matanya. Laki-laki itu terkekeh mendengar jawaban Damara atas pertanyaannya.
"Ini sudah 5 tahun, Damara. Kenapa kamu harus terus mengingatnya? Dia sudah
tenang."
"Dia sudah, tapi aku belum bisa melepasnya, Rei." Jawab Damara sambil menatap mata laki-laki itu.
Laki-laki itu mengalihkan matanya dari pandangan Damara, sedikit kecewa dengan jawabannya. Damara memang merasa sedikit bersalah karena sudah mengatakan itu, tapi dia tidak mungkin berbohong.
"Aku minta maaf kalau jawabanku membuat kamu kecewa, tapi kamu juga harus mengerti aku, Rei." Damara meyakinkan laki-laki yang ada di depannya ini.
Laki-laki itu hanya tersenyum dan menepuk pundak Damara.
"Aku mengerti kamu, dan aku akan selalu mencoba untuk mengerti. Tapi Aku mohon, ini sudah 5 tahun yang lalu, Ara. Aku ingin kamu membuka mata kamu. Lihat apa yang ada di depan mata kamu."
Ia berjalan meninggalkan dapur sambil mengucapkan kata yang tidak sempat ia ucapkan pada Damara dan Damara tidak mungkin mendengar ucapanya,
"Aku ingin kamu membuka mata kamu, sehingga kamu bisa melihat bahwa ada aku yang selalu menunggu kamu, Ara." Gumam Rei.
Laki-laki itu kembali ke ruang tamu dan duduk di sofa sambil menonton TV. Matanya tertuju ke TV, tapi pikirannya melayang entah kemana. Otaknya tidak bisa berhenti berputar karena ucapan Damara tadi. Bagaimana mungkin Damara masih belum bisa melupakan orang itu, padahal ini sudah lewat dari 5 tahun sejak orang itu meninggalkannya.
"Rei, makan malam sudah aku hangatkan. Kamu makan sendiri saja ya, aku sudah mau tidur, besok aku harus ke kantor." Ucap Damara.
Rei menoleh dan mengangguk. Tak lama kemudian alisnya bertaut karena bingung. Salju masih setinggi 1 meter dan Damara akan pergi ke kantor? Bahkan bus saja masih belum beroperasi hingga besok.
"Salju masih tinggi, apa kamu yakin akan tetap ke kantor?" Damara tersenyum simpul dan mengangguk.
"Aku hanya ada rapat dengan klienku besok. Selesai rapat aku akan langsung pulang. Kamu bisa menungguku sambil menonton DVD. By the way, when will you go back to Korea?"
"After New Year, mungkin? Aku ambil cuti panjang, jadi belum pasti akan stay di Osaka sampai kapan." Jawab Rei.
Atmostfer di antara mereka agak sedikit canggung setelah percakapan mereka di dapur tadi. Damara memilih untuk pergi tidur duluan dari pada harus memilih tema untuk menjadi topik pembicaraan mereka. Dia sungguh merindukan sahabatnya itu, tapi dia merasa tidak enak hati dengan sahabatnya itu karena hal tadi. Mungkin memang seharusnya dia tidak perlu melarikan diri dari percakapan tadi.
Damara masuk ke kamarnya dan mengganti pakaiannya dengan piyama. Damara menarik selimut hingga mencapai dada dan mematikan lampu meja disampingnya. Dia menutup matanya dan berfikir bahwa setidaknya natal tahun ini dia tidak akan sendiri lagi seperti tahun yang sebelumnya.

No comments: