BAB
2… CERITA YANG DAHULU
Seoul, Korea
Selatan 16 November 2000.
Malam ini keluarga
Admadja akan tiba di Korea untuk merayakan natal bersama. Memang ini masih
terlalu cepat untuk merayakan natal. Masih ada waktu kurang lebih sekitar 1
bulan sebelum natal datang. Keluarga Admaja biasanya merayakan natal bersama
keluarga besar ayahnya di Melbourne, Australia. Tapi tahun ini adalah giliran
untuk merayakan natal di Seoul, Korea Selatan bersama keluarga besar Ibu-nya.
Damara Oriana Admadja (Damara = cantik @
Yunani ; Oriana = Fajar @ Yunani) adalah gadis belasteran antara
Indonesia-Korea-Australia. Ayahnya adalah David Agung Admadja, seorang pengusaha
besar yang mempunyai darah Indo-Australi, sedangkan Ibunya adalah Seo Min-gi
atau biasa dikenal dengan Sienna, seorang seniman yang mempunyai darah asli
Korea. Banyak orang bertanya-tanya mengapa Ayah dan Ibu-nya Damara bisa menikah. Ayah dan Ibu-nya adalah dua
orang yang berasal dari background yang
berbeda. Ayah-nya seorang sarjana bisnis, sedangkan ibunya hanya seorang
seniman.
Ayah-nya mengaku kalau
ia bertemu dengan Ibu-nya saat sedang liburan ke Korea bersama teman-temannya.
Tidak menyangka bahwa kalau salah satu pameran yang Ayah-nya kunjungi saat di
Korea adalah pameran dari lukisan-lukisan Ibu-nya. Karena terkesima dengan
keindahan dari guratan tangan yang di hasilkan oleh Ibu-nya, Ayah-nya pun
memberanikan diri untuk mengajak Ibu-nya untuk pergi berkencan. Saat itu mereka
sering mengalami kesulitan dalam berkomunikasi, tetapi untung saja Ibu-nya Damara
lumayan fasih untuk bertutur kata dalam bahasa Inggris. Sejak saat itulah Ayah
dan Ibu Damara menjadi pasangan yang sulit dipisahkan.
Karena kuliah Ayah-nya
sudah selesai, Ayah Damara memutuskan untuk pindah ke Korea untuk menunggu
Ibu-nya Damara tamat kuliah. Setelah 2 tahun bersama, Ayah dan Ibu Damara memutuskan untuk menikah dan pindah ke Indonesia. Damara
adalah anak satu-satunya, sehingga Damara menjadi cucu yang paling disayangi oleh Oma dan Opa-nya. Damara
tumbuh menjadi anak yang cantik
dan ceria.
Walaupun kelakuannya
yang terkadang seperti laki-laki, tapi jiwa-nya masih jiwa seorang gadis kecil.
Damara sudah terbiasa menjadi anak yang mandiri karena Ayah dan Ibunya yang
sering ke luar negri.
"Pa, aku dan Mama
sudah sampai di Seoul, papa kapan berangkat?" Ucap Damara melalui telepon
selular terbaru yang dibelikan oleh Ayah-nya.
"Papa akan
berangkat nanti
malam, kamu dan Mama tunggu saja dirumah Opa ya sayang." Jawab Ayah-nya.
"Iya, Pa. Yasudah
deh Pa, pulsaku abis nih. Kan panggilan Internasional, dah Papa." Damara
memutuskan sambungan teleponnya dengan Ayah-nya.
Malam ini memang baru
hanya dia dan Ibu-nya yang tiba di Korea. Karena jadwal padat Ayah-nya, ia
terpaksa berangkat lebih dulu bersama Ibunya. Oma Damara sudah menunggu mereka
berdua di lobby bandara. Senyuman hangat dan sayang terpasang di kedua wajah
pasangan tua itu. Mereka tersenyum dan melambaikan tangan kepada Damara. Damara
berlari dan memeluk Oma-nya.
"I really
missed you, Halmeoni*1(nenek)."
Ucap Damara sambil memeluk Oma-nya menggunakan campuran bahasa Inggris dan
Korea.
"I missed you too my child. How's Indonesia?"
Tanya Oma.
"Great. Walaupun
Jakarta selalu panas dan macet, it is okay." Jawab Damara sambil
memamerkan gigi putih-nya.
Tidak lama kemudian, Damara
dan Ibu-nya masuk ke dalam mobil dan bergegas menuju ke rumah Oma-nya. Di
pinggir jalan kota Seoul sudah mulai dipasangi hiasan natal. Pohon-pohon natal
yang dilengkapi dengan lampu warna-warni juga sudah bertengger di pusat kota.
Hampir semua toko juga sudah memasang lampu-lampu natal di atas etalase toko
mereka.
"Indah
sekali.." Gumam Damara.
Di Jakarta, hal
seperti ini sangat jarang ditemukan. Susunan kota yang padat, membuat Jakarta
menjadi terlihat kumuh. Mungkin itulah yang menyebabkan mengapa orang-orang di
Jakarta enggan untuk bersiap-siap menyambut natal. Biasanya juga, keluarga
Atmadja hanya memasang hiasan natal untuk ditempel di depan pintu. Mereka tidak
pernah membeli pohon natal, selain karena mereka tidak akan merayakan natal di
Jakarta, itu juga karena Ayah Damara menganggap pohon natal hanya akan membuat
rumah menjadi sempit.
Mereka tiba di rumah
Oma Damara. Rumah itu tidak terlalu besar, dan juga tidak kecil. Rumah ini
memang mungkin lebih kecil dari pada rumah Damara di Jakarta. Rumah Damara di
Jakarta memiliki 7 kamar tidur, 4 kamar mandi, 1 ruang baca, 1 ruang menonton,
dan 2 ruang kerja. Sedangkan rumah ini hanya memiliki 4 kamar tidur dan 2 kamar
mandi. Sungguh jauh berbeda dengan rumah Damara yang di Jakarta. Tapi, di dalam
rumah berukuran sedang inilah Damara bisa merasakan kehangatan keluarga.
"Halmeoni, dimana Hye Jin unnie*2(kakak perempuan)?"
Tanya Damara.
"Dia belum
datang, tunggu saja di kamar. Sebentar lagi mungkin dia akan sampai."
Tanpa berpikir panjang, Damara langsung naik ke lantai 2 dan masuk ke dalam
kamar Hye Jin.
Seo Hye Jin atau Hye
Jin adalah sepupu Damara. Hye Jin adalah satu-satunya sepupu yang seumuran
dengan Damara. Mereka sering bermain bersama sejak kecil, bahkan karena mereka
sangat dekat, banyak yang mengira bahwa mereka adalah kakak-adik atau bahkan
kembar. Walaupun Damara 3 tahun lebih muda, tapi ia memiliki paras wajah dan
tubuh seperti Hye Jin. Karena Damara memiliki gen dari Ibu-nya yang
mengakibatkan ia mempunyai wajah yang sangat oriental seperti orang Korea asli.
Kamar Hye Jin memiliki
nuansa biru muda dengan wallpaper Doraemon. Hye Jin yang merupakan penggemar
berat Doraemon memiliki lemari tersendiri untuk barang koleksinya. Di atas meja
belajarnya terdapat frame foto yang memuat gambar Hye Jin, Damara, dan Rei. Damara
melihat foto tersebut dan tersenyum. Foto itu adalah foto 3 tahun lalu saat Damara
masih berumur 11 tahun.
Reinardi Karfi Park atau Rei adalah sahabat kecil Damara
dan juga Hye Jin. Rei mempunyai umur yang sama dengan Damara. Mereka sering
bermain bersama saat musim panas dan natal. Rei memiliki darah Indo-Korea
seperti Damara. Tapi Rei dan keluarganya memilih menetap di Korea sebagai warga
Korea.
Rei sering berkunjung
ke Jakarta saat Ayah-nya mengurusi bisnis di Jakarta. Ayah-nya adalah orang
Korea asli, sedangkan Ibu-nya murni berdarah Indonesia. Damara terakhir bertemu
Rei 2 tahun yang lalu saat kunjungan Rei ke Jakarta. Ayah Damara dan Ibu Rei
adalah sahabat sewaktu kuliah, sehingga Damara dan Rei bisa menjadi sahabat.
"Damara!!"
Teriak Hye Jin saat dia menemukan sepupunya itu berada di dalam kamarnya, Damara
yang sedang termenung tersentak kaget karena suara tinggi Hye Jin.
"Hye Jin!!"
Sambut Damara.
Mereka berpelukan
sambil meloncat-loncat kecil di atas kasur.
"Apa kabarmu?
Sudah 3 tahun kita tidak bertemu--oh! Rambutmu sudah lebih panjang
dariku." Ucap Hye Jin tanpa menggunakan titik koma.
"Aku baik-baik
saja. Iya,
sudah lama sekali kita tidak bertemu dan memang rambutku kini sudah lebih
panjang darimu. Kamu apa kabar? Aku dengar dari Halmeoni kamu mempunyai pacar?
Kenapa tidak pernah cerita!?"
Damara melepaskan
pelukannya dan duduk di atas sofa di kamar Hye Jin, walaupun rumah Oma tidak
terlalu besar, tapi kamar Hye Jin tidak terlalu kecil dan juga sangat nyaman.
"Aku baik-baik
saja. Soal Aku mempunyai kekasih.. Itu hanya karangan Halmeoni saja. Aku kan
masih SMA, dan tahun depan Aku harus mengikuti ujian, jadi Aku harus
konsentrasi dengan belajarku lebih dahulu." Jawab Hye Jin.
"Padahal kalau
kamu sudah punya pacar, Aku ingin minta dikenali dengan pacarmu itu.."
“Kamu masih kecil Damara!
Kamu harus konsentrasi dengan sekolahmu dulu. Kamu kapan sampai?”
“Baru saja sampai.
Badanku sakit semua. Perjalanan panjang ke Korea membuat bokongku terasa
sakit.” Keluh Damara.
Perjalanan dari
Jakarta-Korea memang memakan waktu 3-4 jam. Ditambah lagi flight ke Korea hanya
ada pada pukul 3 sore dan 11 malam. Memang sedikit sulit untuk menempuh
perjalanan kesana. Ditambah lagi cuaca di Indonesia yang belakangan ini sedang
tidak stabil membuat jadwal penerbangan menjadi kacau balau. Beruntung saja
flight ke Korea hari ini tidak terganggu. Cuaca di Indonesia sedang bersahabat,
oleh karena itu perjalanan hari ini berjalan lancar. Oma Damara mengetuk pintu
kamar Hye Jin, memberitahu bahwa makan malam sudah siap.
“Ayo turun, makan
malam sudah siap. Ppalli*3(cepat).”
"Ayo kita turun. Banyak hal yang ingin aku ceritakan padamu, Ara."
No comments:
Post a Comment