1.29.2012

Impossible Love

BAB 2… CERITA YANG DAHULU

Seoul, Korea Selatan 16 November 2000.

Malam ini keluarga Admadja akan tiba di Korea untuk merayakan natal bersama. Memang ini masih terlalu cepat untuk merayakan natal. Masih ada waktu kurang lebih sekitar 1 bulan sebelum natal datang. Keluarga Admaja biasanya merayakan natal bersama keluarga besar ayahnya di Melbourne, Australia. Tapi tahun ini adalah giliran untuk merayakan natal di Seoul, Korea Selatan bersama keluarga besar Ibu-nya.
Damara Oriana Admadja (Damara = cantik @ Yunani ; Oriana = Fajar @ Yunani) adalah gadis belasteran antara Indonesia-Korea-Australia. Ayahnya adalah David Agung Admadja, seorang pengusaha besar yang mempunyai darah Indo-Australi, sedangkan Ibunya adalah Seo Min-gi atau biasa dikenal dengan Sienna, seorang seniman yang mempunyai darah asli Korea. Banyak orang bertanya-tanya mengapa Ayah dan Ibu-nya Damara bisa menikah. Ayah dan Ibu-nya adalah dua orang yang berasal dari  background yang berbeda. Ayah-nya seorang sarjana bisnis, sedangkan ibunya hanya seorang seniman.
Ayah-nya mengaku kalau ia bertemu dengan Ibu-nya saat sedang liburan ke Korea bersama teman-temannya. Tidak menyangka bahwa kalau salah satu pameran yang Ayah-nya kunjungi saat di Korea adalah pameran dari lukisan-lukisan Ibu-nya. Karena terkesima dengan keindahan dari guratan tangan yang di hasilkan oleh Ibu-nya, Ayah-nya pun memberanikan diri untuk mengajak Ibu-nya untuk pergi berkencan. Saat itu mereka sering mengalami kesulitan dalam berkomunikasi, tetapi untung saja Ibu-nya Damara lumayan fasih untuk bertutur kata dalam bahasa Inggris. Sejak saat itulah Ayah dan Ibu Damara menjadi pasangan yang sulit dipisahkan.
Karena kuliah Ayah-nya sudah selesai, Ayah Damara memutuskan untuk pindah ke Korea untuk menunggu Ibu-nya Damara tamat kuliah. Setelah 2 tahun bersama, Ayah dan Ibu Damara memutuskan untuk menikah dan pindah ke Indonesia. Damara adalah anak satu-satunya, sehingga Damara menjadi cucu yang paling disayangi oleh Oma dan Opa-nya. Damara tumbuh menjadi anak yang cantik dan ceria. Walaupun kelakuannya yang terkadang seperti laki-laki, tapi jiwa-nya masih jiwa seorang gadis kecil. Damara sudah terbiasa menjadi anak yang mandiri karena Ayah dan Ibunya yang sering ke luar negri.
"Pa, aku dan Mama sudah sampai di Seoul, papa kapan berangkat?" Ucap Damara melalui telepon selular terbaru yang dibelikan oleh Ayah-nya.
"Papa akan berangkat nanti malam, kamu dan Mama tunggu saja dirumah Opa ya sayang." Jawab Ayah-nya.
"Iya, Pa. Yasudah deh Pa, pulsaku abis nih. Kan panggilan Internasional, dah Papa." Damara memutuskan sambungan teleponnya dengan Ayah-nya.
Malam ini memang baru hanya dia dan Ibu-nya yang tiba di Korea. Karena jadwal padat Ayah-nya, ia terpaksa berangkat lebih dulu bersama Ibunya. Oma Damara sudah menunggu mereka berdua di lobby bandara. Senyuman hangat dan sayang terpasang di kedua wajah pasangan tua itu. Mereka tersenyum dan melambaikan tangan kepada Damara. Damara berlari dan memeluk Oma-nya.
"I really missed you, Halmeoni*1(nenek)." Ucap Damara sambil memeluk Oma-nya menggunakan campuran bahasa Inggris dan Korea.
"I missed you too my child. How's Indonesia?" Tanya Oma.
"Great. Walaupun Jakarta selalu panas dan macet, it is okay." Jawab Damara sambil memamerkan gigi putih-nya.
Tidak lama kemudian, Damara dan Ibu-nya masuk ke dalam mobil dan bergegas menuju ke rumah Oma-nya. Di pinggir jalan kota Seoul sudah mulai dipasangi hiasan natal. Pohon-pohon natal yang dilengkapi dengan lampu warna-warni juga sudah bertengger di pusat kota. Hampir semua toko juga sudah memasang lampu-lampu natal di atas etalase toko mereka.
"Indah sekali.." Gumam Damara.
Di Jakarta, hal seperti ini sangat jarang ditemukan. Susunan kota yang padat, membuat Jakarta menjadi terlihat kumuh. Mungkin itulah yang menyebabkan mengapa orang-orang di Jakarta enggan untuk bersiap-siap menyambut natal. Biasanya juga, keluarga Atmadja hanya memasang hiasan natal untuk ditempel di depan pintu. Mereka tidak pernah membeli pohon natal, selain karena mereka tidak akan merayakan natal di Jakarta, itu juga karena Ayah Damara menganggap pohon natal hanya akan membuat rumah menjadi sempit.
Mereka tiba di rumah Oma Damara. Rumah itu tidak terlalu besar, dan juga tidak kecil. Rumah ini memang mungkin lebih kecil dari pada rumah Damara di Jakarta. Rumah Damara di Jakarta memiliki 7 kamar tidur, 4 kamar mandi, 1 ruang baca, 1 ruang menonton, dan 2 ruang kerja. Sedangkan rumah ini hanya memiliki 4 kamar tidur dan 2 kamar mandi. Sungguh jauh berbeda dengan rumah Damara yang di Jakarta. Tapi, di dalam rumah berukuran sedang inilah Damara bisa merasakan kehangatan keluarga.
"Halmeoni, dimana Hye Jin unnie*2(kakak perempuan)?" Tanya Damara.
"Dia belum datang, tunggu saja di kamar. Sebentar lagi mungkin dia akan sampai." Tanpa berpikir panjang, Damara langsung naik ke lantai 2 dan masuk ke dalam kamar Hye Jin.
Seo Hye Jin atau Hye Jin adalah sepupu Damara. Hye Jin adalah satu-satunya sepupu yang seumuran dengan Damara. Mereka sering bermain bersama sejak kecil, bahkan karena mereka sangat dekat, banyak yang mengira bahwa mereka adalah kakak-adik atau bahkan kembar. Walaupun Damara 3 tahun lebih muda, tapi ia memiliki paras wajah dan tubuh seperti Hye Jin. Karena Damara memiliki gen dari Ibu-nya yang mengakibatkan ia mempunyai wajah yang sangat oriental seperti orang Korea asli.
Kamar Hye Jin memiliki nuansa biru muda dengan wallpaper Doraemon. Hye Jin yang merupakan penggemar berat Doraemon memiliki lemari tersendiri untuk barang koleksinya. Di atas meja belajarnya terdapat frame foto yang memuat gambar Hye Jin, Damara, dan Rei. Damara melihat foto tersebut dan tersenyum. Foto itu adalah foto 3 tahun lalu saat Damara masih berumur 11 tahun.
Reinardi Karfi Park atau Rei adalah sahabat kecil Damara dan juga Hye Jin. Rei mempunyai umur yang sama dengan Damara. Mereka sering bermain bersama saat musim panas dan natal. Rei memiliki darah Indo-Korea seperti Damara. Tapi Rei dan keluarganya memilih menetap di Korea sebagai warga Korea.
Rei sering berkunjung ke Jakarta saat Ayah-nya mengurusi bisnis di Jakarta. Ayah-nya adalah orang Korea asli, sedangkan Ibu-nya murni berdarah Indonesia. Damara terakhir bertemu Rei 2 tahun yang lalu saat kunjungan Rei ke Jakarta. Ayah Damara dan Ibu Rei adalah sahabat sewaktu kuliah, sehingga Damara dan Rei bisa menjadi sahabat.
"Damara!!" Teriak Hye Jin saat dia menemukan sepupunya itu berada di dalam kamarnya, Damara yang sedang termenung tersentak kaget karena suara tinggi Hye Jin.
"Hye Jin!!" Sambut Damara.
Mereka berpelukan sambil meloncat-loncat kecil di atas kasur.
"Apa kabarmu? Sudah 3 tahun kita tidak bertemu--oh! Rambutmu sudah lebih panjang dariku." Ucap Hye Jin tanpa menggunakan titik koma.
"Aku baik-baik saja. Iya, sudah lama sekali kita tidak bertemu dan memang rambutku kini sudah lebih panjang darimu. Kamu apa kabar? Aku dengar dari Halmeoni kamu mempunyai pacar? Kenapa tidak pernah cerita!?"
Damara melepaskan pelukannya dan duduk di atas sofa di kamar Hye Jin, walaupun rumah Oma tidak terlalu besar, tapi kamar Hye Jin tidak terlalu kecil dan juga sangat nyaman.
"Aku baik-baik saja. Soal Aku mempunyai kekasih.. Itu hanya karangan Halmeoni saja. Aku kan masih SMA, dan tahun depan Aku harus mengikuti ujian, jadi Aku harus konsentrasi dengan belajarku lebih dahulu." Jawab Hye Jin.
"Padahal kalau kamu sudah punya pacar, Aku ingin minta dikenali dengan pacarmu itu.."
“Kamu masih kecil Damara! Kamu harus konsentrasi dengan sekolahmu dulu. Kamu kapan sampai?”
“Baru saja sampai. Badanku sakit semua. Perjalanan panjang ke Korea membuat bokongku terasa sakit.” Keluh Damara.
Perjalanan dari Jakarta-Korea memang memakan waktu 3-4 jam. Ditambah lagi flight ke Korea hanya ada pada pukul 3 sore dan 11 malam. Memang sedikit sulit untuk menempuh perjalanan kesana. Ditambah lagi cuaca di Indonesia yang belakangan ini sedang tidak stabil membuat jadwal penerbangan menjadi kacau balau. Beruntung saja flight ke Korea hari ini tidak terganggu. Cuaca di Indonesia sedang bersahabat, oleh karena itu perjalanan hari ini berjalan lancar. Oma Damara mengetuk pintu kamar Hye Jin, memberitahu bahwa makan malam sudah siap.
“Ayo turun, makan malam sudah siap. Ppalli*3(cepat).”
"Ayo kita turun. Banyak hal yang ingin aku ceritakan padamu, Ara."

No comments: