6.21.2012

Impossible Love

BAB... 3 GEHEIMNIS*4 (secret)

D a m a r a

My life seems perfect from outside. No one knows that inside this family is like hell. Want to know the secret? Ya. Hidupku memang tidak sebaik yang orang lain pikir. Semuanya bullshit. Semua yang aku miliki hanya sekedar kesenangan belaka yang bisa membutakanku.
Harta yang berlimpah, wajah yang elok, teman yang banyak, keluarga yang sempurna.. Semuanya aku miliki. Oh, apa aku berkata keluarga yang sempurna? Itu adalah sudut pandangku tentang keluargaku beberapa tahun yang lalu, saat aku masih seorang gadis polos yang tidak tau tentang apapun. Waktu berlalu, dan kini cara pandangku berubah. Semua yang aku kira sempurna ternyata hanyalah sekedar mask.
Mungkin kalian akan mengolok-olokku jika aku mengatakan ini semua dengan umurku yang masih terbilang belia, 14 tahun. Tau apa anak SMP yang berumur 14 tahun tentang urusan orang dewasa? Yang mereka tau adalah aku sebagai gadis kecil yang masih senang bermain Barbie. Tapi kalian semua salah. Aku memang sengaja untuk menggunakan topeng ini agar orang-orang di sekitarku tidak mengetahui kelemahanku.
Play with your dolls, because you don’t know anything.
I maybe still a kid. Tapi aku tidak mau diperlakukan seperti anak-anak kecil. I’ve known the truth, so stop playing around with me. Lelah dibohongi oleh semua orang. Merasa dipermainkan. Halah, anak kecil tau apa sih? Untuk keseribu kalinya sejak peristiwa itu, mungkin aku sudah mengeluhkan hal yang sama. Tuhan mungkin juga merasa lelah dengan keluhanku yang tidak berujung itu.

“Ra, kamu tidak makan?” Suara lembut Hye Jin menyadarkanku kembali dari alam bawah sadarku. Mungkin sejak tiba di ruang makan ini aku sudah seperti mayat berjalan saja. Wajah pucat tanpa ekspresi. Seperti orang yang siap melahap korbannya siapa saja.
I’m okay, just a little bit tired. You can eat first, unnie. I think I'll just get hot chocholate.
"You look horibble. Lebih baik kamu istirahat aja dulu, aku nanti bawain makan malam ke atas."
"Thank you, unnie." Aku berjalan lunglai ke atas. Entah kenapa perasaanku sedang tidak enak, padahal biasanya aku dan Hye Jin selalu ngobrol sepanjang hari. Hanya saja, sejak teleponku ke Papa tadi berakhir, perasaanku mulai tidak enak. Likes something bad will comes.
Sepertinya aku harus berhenti memikirkan yang tidak-tidak. Liburan ini akan sangat menyenangkan, selain libur satu bulan lebih awal, aku bisa berkumpul dengan Hye Jin. I should think in positive way. Mungkin aku memang hanya membutuhkan istirahat yang cukup. Tapi sungguh, berkali-kali aku memejamkan mataku, tetap saja ada perasaan aneh yang bergelut di benakku.
Rasanya baru lima menit yang lalu aku berhasil memejamkan mata dan berlari dari perasaan tidak enak, saat aku merasakan sepasang tangan sedang memelukku dalam tidurku. Mama. Mama? Apa yang mama lakukan di kamarku malam-malam begini?
"Ma?" Tanyaku.
Tidak ada jawaban.
"Mama? Ada apa?" Tanyaku sekali lagi. Kini Mama sedikit melonggarkan tangannya yang berada pada pinggangku.
"Mama kenapa? Mama sakit? Atau Mama pusing? Ada apa, Ma?" Aku sedikit merasa was-was karena Mama sama sekali tidak bergeming.
"Tidak ada apa-apa, sayang. Kamu kembali tidur saja ya. Mama tadi hanya kangen sama kamu."
"Iya, Ma." Jawabku dengan senyuman. Dengan modal penerangan cahaya bulan aku bisa melihat wajah Mama yang tampak lesu dan sedih.
"Ma? Apa Mama ada masalah?" Ucapku saat menarik tangannya untuk berhenti bergerak keluar dari kamarku. Sedikit mengejutkan untukku saat aku melihat Mama membalikkan tubuhnya ke arahku.
"Tidak apa, sayang. Mama bisa atasi ini."
Just tell me mom. Mungkin aku bisa membantu?”
My dear Damara Oriana Admadja, Mama tidak kenapa-kenapa sayang. Hanya sedikit lelah. Kamu istirahat saja ya.” Ucapnya lirih. Aku tau bahwa nada bicaranya itu justru malah membuatku berfikir yang tidak-tidak. Dengan ucapan Mama seperti itu yang seharusnya membuat aku tidak merasa khawatir justru malah membuatku khawatir. Tapi, aku juga tidak bisa memaksakan Mama.
Mama mengecup keningku dan mematikan lampu tidurku. Tidak menyadari bahwa itu adalah malam terakhirku untuk melihat senyuman tulus dari Mama.

~*~
Suara tangis Mama membangunkanku pada pagi hari ini. Aku mendengar suara ribut-ribut dari lantai 1. Perlahan-lahan aku menuruni anak-anak tangga dan mengintip apa yang terjadi. Mama terduduk di sofa dengan Halmeoni yang berada di sebelahnya sambil memberikan pelukan. Hye Jin duduk di kursi berhadapan dengan Mama dan ada 2 orang laki-laki berpakaian hitam-hitam di sebelah Hye Jin. Semua orang mengerubungi Mama.
Ada apa? Mengapa Mama menangis? Apakah terjadi sesuatu? Kenapa ini?
“Mama...” Ucapku lirih. Aku rasa suaraku itu cukup untuk menarik perhatian mereka semua. Saat aku memanggil Mama, semua serempak menengok ke arahku.
“Ara? Kamu sudah bangun sayang?” Tanya Halmeoni.  Dari sudut mata Halmeoni aku bisa melihat bekas jejak-jejak air mata.
“Ada apa ini? Mama? Kenapa menangis? Somethings wrong?”
Tidak ada yang menjawabku. Mereka hanya menatapku dengan penuh rasa bersalah sekaligus kasihan. Kasihan?
“Kalau sudah bangun, sarapan dulu yuk. Aku sudah membuat nasi goreng kimchi*5(makanan korea yang terbuat dari sawi) kesukaanmu.” Ajak Hye Jin.
Hye Jin menarik tanganku, tapi aku tidak bergeming. Pasti ada yang salah disini. Tidak mungkin tidak ada yang salah jika Mama menangis seperti itu. Selama 14 tahun aku tidak pernah melihat Mama menangis seperti ini.
“Ma? Are you okay? What happened?” Tanyaku sambil menghampiri Mama. Masih tidak ada jawaban.
“Jawab aku, Ma. Jangan membuat aku merasa bingung seperti ini. Tolong..”
“Ara sayang, kamu jangan ganggu Mama-mu dulu ya. Dia masih sedikit.. Shock. “
Shock? Shock karena apa? Mama masih tidak menatapku. Saat Mama mengangkat wajahnya, aku melihat matanya sembab karena banyak menangis.
"Kita kembali ke Jakarta malam ini."

Malam ini kami kembali ke Jakarta. Mama bilang, kami batal merayakan natal di Korea karena Mama ada kepentingan mendadak, jadi tahun ini kami hanya bisa merayakan di Indonesia saja. Saat kami tiba di bandara Soekarno Hatta, aku melihat Papa menunggu di lobi kedatangan. Tapi Papa tidak sendiri.
"Papa!" Ucapku riang sambil berlari memeluk Papa.
Papa membalas memelukku dan tertawa pelan. Aku melepaskan pelukanku, tapi Mama langsung masuk ke dalam mobil sambil memasukkan koper. Apa aku bilang tadi Papa tidak sendiri? Ya. Ada perempuan yang bersama Papa. Perempuan itu terlihat seperti seumuran Mama, hanya saja sedikit lebih muda dan memiliki rambut yang panjang dan sedikit ikal dibawahnya.
"Dia siapa?" Tanyaku pada Papa. Perempuan itu tersenyum kepadaku.
"Kenalkan, saya Keza, pa--"
"Sekertaris Papa, sayang. Sudah, ayo naik ke dalam mobil." Papa memotong ucapan perempuan tadi.
Aku masuk ke dalam mobil dan duduk di kursi belakang dengan Keza, sedangkan Mama duduk di depan. Mama hanya diam tidak berbicara apa-apa. Tumben sekali. Aku menyibukkan diriku bermain dengan gameboy-ku. Perjalanan terasa sunyi, rasanya hampir berjam-jam untuk kami mencapai rumah. Saat sampai dirumah Mama memintaku untuk masuk ke kamar dan segera tidur. Aku menurutinya.
Aku bergegas pergi ke lantai dua, dan berpamitan dengan Keza. Sebelum aku sempat menutup pintu kamar, suara teriakan Mama terdengar di ruang tamu lantai satu. Aku berniat untuk melihat apa yang terjadi, tapi Bi Sumi, pengasuhku, menyuruhku bergegas masuk kamar. Saat aku masuk ke kamar, suara Mama tidak terdengar lagi. Mungkin Mama sudah tidur.
Jam sudah menunjukkan pukul 2 pagi. Aku rasa aku harus segera tidur. Lusa nanti aku harus kembali sekolah seperti biasa. Ya.. Liburanku dibatalkan dan aku harus kembali sekolah.

~*~

Pagi ini aku terbangun pukul 9. Aku segera mandi dan mengganti pakaian dengan pakaian main. Aku turun ke bawah, berniat untuk mencari Mama. Tapi Mama tidak ada, kalau Papa pasti sudah berangkat kerja. Bi Sumi menghampiriku dan mengatakan kalau sarapan sudah siap. Aku ke ruang makan dan mendapati Keza sedang duduk di kursi makan yang biasa Mama duduki.
"Kenapa masih disini?" Tanyaku sedikit tidak sopan. Masa bodo dengan kata-kataku, tapi memang aura Keza selalu membuatku risih.
"Pagi Damara. Sini duduk sebelah tante, kita sarapan sama-sama." Ucapnya sambil mengulaskan senyuman.
Aku hanya menatapnya penuh tanya dan akhirnya duduk di tempatku.
"Tante ngapain disini? Baru datang?"
"Datang dari mana? Tante baru selesai mandi, terus tante mau sarapan. Kata Bi Sum kamu juga baru bangun, jadi tante ajak sarapan bareng."
Aku semakin bingung dengan jawabannya. Itu artinya dia tidak pulang? Apa yang dia lakukan disini? Dan kenapa dia duduk di atas kursi favorit Mama?
"For your information, that chair which you are sitting on right now is my mom's favourite spot." Ucapku dengan nada suara lebih tinggi, tidak memperhatikan raut wajahnya yang berubah.
"I know that."
"Then why are you still sitting on that chair? Don't you have manner?"
"I do have. Tapi kursi ini akan jadi spot favourite tante mulai sekarang." Jawab Keza dengan nada sinis.
Apa maksud perempuan ini? Aku menghentikan makanku dan menatapnya. Berniat untuk bertanya balik apa yang dia maksud, tapi tiba-tiba Mama datang.
"Damara, hurry finish your food. We will going to the mall."
Untuk kali ini, kamu aman Keza. Cuih. Jijik sekali kalau aku harus memanggil kamu dengan sebutan 'Tante'.
"Yes, mom."

Perjalanan aku dan Mama sangat sepi. Mama sama sekali tidak berbicara saat perjalanan. Ia hanya sesekali menjawab pertanyaan yang aku tanyakan. Bahkan ia tidak tertawa saat aku melontarkan lelucon. Ada yang salah disini.
Kami hanya berkeliling mall dan membeli beberapa persiapan natal. Mama juga tidak belanja baju untuk natal. Biasanya kami selalu berbelanja kado natal untuk aku dan Papa. Tapi kali ini Mama hanya sibuk mencari kebutuhan untuk natal saja. Saat jam makan siang, Mama mengajak aku makan di resto Jepang di dekat mall.
"Ma, Tante Keza semalam nggak pulang?" Tanyaku sambil menyeruput jus apel kesukaanku.
"Dia tinggal dengan kita sekarang."
"How could she lives with us? Kenapa aku baru tau?"
"Kasian dia, baru bertengkar dengan suaminya dan sedang mengurus surat cerai. Orangtua Tante Keza ada di Batam, kalau dia kembali ke Batam, bagaimana pekerjaan dia?"
"Oh.."
Mama biasanya tidak suka ada orang lain yang tinggal bersama kita, tapi kenapa sekarang ia membiarkan Keza tinggal bersama kami? Acara makan kami kembali sunyi. Mama tidak berbicara. Ia hanya bermain dengan notebooknya. Aku juga hanya sibuk dengan buku cerita Harry Potter yang baru Mama belikan.
"Seo Min-gi?" Suara familiar itu mengejutkan kami berdua.
Ahjussi*6(paman)!
"Seowoo?"
"Ah ternyata memang benar kamu Min-gi, aku kira aku salah melihat orang." Ucap paman Seowoo.
"Apa kabar? Sedang di Indonesia?"
"Ya, tugas kantor, seperti biasa. Bagaimana kabarmu dan David?"
"Baik, kamu dan Liyan?" Mama tersenyum sambil menjawab pertanyaan Paman, tapi aku tau senyumannya itu adalah senyum paksa. Kemudian Paman mengalihkan pandangannya ke arahku dan tersenyum.
"Apa kabar, Ara?" Tanya paman.
"Aku baik, Paman." Tersenyum lebar dan memamerkan gigi putihku.
"Sayang sekali Rei tidak ikut ke Jakarta." Ucap paman sambil mengelus puncak kepalaku.
"Ah kenapa Rei tidak ikut?"
"Sekolah di Seoul belum libur, kalau paman ajak dia ke Jakarta, sekolahnya bagaimana?" Canda paman.
Paman kini bergabung dengan kami. Kami makan siang sambil berbincang-bincang. Paman dan Mama lebih sering membicarakan soal pekerjaan mereka masing-masing yang tentu saja masih aku tidak mengerti, dan aku hanya diam sambil membaca buku Harry Potter-ku lagi. Mama dan Paman sempat berbicara dengan serius, aku sempat mendengar beberapa kata yang terucap oleh Mama, seperti: selingkuh, sekretaris, dan cerai. Yang aku tau dari cerai adalah perpisahan diantara sepasang suami-istri, mereka tidak akan hidup bersama-sama lagi.
Tanpa terasa hari sudah menjelang malam, Paman Seowoo pamit lebih dulu karena ada rapat penting katanya. Aku dan Mama beranjak dari resto Jepang yang kami kunjungi. Benar saja, rupanya memang sudah malam. Langit yang tadi berwarna cerah kebiruan kini berubah menjadi hitam dengan dipenuhi bintang-bintang kecil. Andai saja kami masih di Seoul malam ini.
Kami tiba di rumah pada pukul setengah Sembilan malam. Mobil Mercedes Papa sudah terparkir di garasi rumah kami, rupanya Papa sudah pulang. Aku masuk ke dalam rumah, saat aku tiba di ruang tengah, aku melihat Keza sedang berada dalam pelukan Papa sambil menciumi pipi Papa. Aku mendengar suara banting pintu di belakangku, rupanya Mama sudah kembali dari memarkirkan mobilnya. Papa dan Keza yang mendengar suara banting pintu Mama langsung membebaskan diri dari satu sama lain.
Go to your room, Ara.” Kata Mama.
Uh oh, aku mencium sesuatu yang buruk akan terjadi. Tanpa pikir panjang, aku langsung lari ke kamarku yang berada di lantai 2. Di atas sudah ada Bi Sumi yang menungguku. Bibi menganggukkan kepalanya dan memintaku untuk masuk ke kamar. Saat pintu kamarku tertutup, suara hingar bingar di bawah akhirnya pecah, dan kini aku dapat mendengar jelas apa yang Mama katakan kepada Papa.
“Kita cerai! I will take Ara with me."

No comments: