BAB... 3 GEHEIMNIS*4 (secret)
D a m a r a
My life seems perfect from outside.
No one knows that inside this family is like hell. Want to know the secret? Ya. Hidupku memang tidak sebaik yang orang lain
pikir. Semuanya bullshit. Semua yang
aku miliki hanya sekedar kesenangan belaka yang bisa membutakanku.
Harta yang berlimpah, wajah yang elok, teman yang banyak, keluarga yang
sempurna.. Semuanya aku miliki. Oh, apa aku berkata keluarga yang sempurna? Itu
adalah sudut pandangku tentang keluargaku beberapa tahun yang lalu, saat aku
masih seorang gadis polos yang tidak tau tentang apapun. Waktu berlalu, dan kini
cara pandangku berubah. Semua yang aku kira sempurna ternyata hanyalah sekedar mask.
Mungkin kalian akan
mengolok-olokku jika aku mengatakan ini semua dengan umurku yang masih
terbilang belia, 14 tahun. Tau apa anak SMP yang berumur 14 tahun tentang
urusan orang dewasa? Yang mereka tau adalah aku sebagai gadis kecil yang masih
senang bermain Barbie. Tapi kalian semua salah. Aku memang sengaja untuk
menggunakan topeng ini agar orang-orang di sekitarku tidak mengetahui
kelemahanku.
Play with your dolls, because you don’t know anything.
I maybe still a kid. Tapi aku tidak mau
diperlakukan seperti anak-anak kecil.
I’ve known the truth, so stop playing around with me. Lelah dibohongi oleh
semua orang. Merasa dipermainkan. Halah, anak kecil tau apa sih? Untuk keseribu
kalinya sejak peristiwa itu, mungkin aku sudah mengeluhkan hal yang sama. Tuhan
mungkin juga merasa lelah dengan keluhanku yang tidak berujung itu.
“Ra, kamu tidak
makan?” Suara lembut Hye Jin menyadarkanku kembali dari alam bawah sadarku.
Mungkin sejak tiba di ruang makan ini aku sudah seperti mayat berjalan saja.
Wajah pucat tanpa ekspresi. Seperti orang yang siap melahap korbannya siapa
saja.
“I’m okay, just a little bit tired. You can eat first, unnie. I
think I'll just get
hot chocholate.”
"You look horibble. Lebih baik kamu istirahat aja dulu, aku nanti bawain
makan malam ke atas."
"Thank you, unnie."
Aku berjalan lunglai ke atas. Entah kenapa perasaanku sedang tidak enak,
padahal biasanya aku dan Hye Jin selalu ngobrol sepanjang hari. Hanya saja,
sejak teleponku ke Papa tadi berakhir, perasaanku mulai tidak enak. Likes something bad will comes.
Sepertinya aku harus berhenti memikirkan yang tidak-tidak. Liburan ini
akan sangat menyenangkan, selain libur satu bulan lebih awal, aku bisa
berkumpul dengan Hye Jin. I should think
in positive way. Mungkin aku memang hanya membutuhkan istirahat yang cukup.
Tapi sungguh, berkali-kali aku memejamkan mataku, tetap saja ada perasaan aneh
yang bergelut di benakku.
Rasanya baru lima menit yang lalu aku berhasil memejamkan mata dan
berlari dari perasaan tidak enak, saat aku merasakan sepasang tangan sedang memelukku
dalam tidurku. Mama. Mama? Apa yang mama lakukan di kamarku malam-malam begini?
"Ma?" Tanyaku.
Tidak ada jawaban.
"Mama? Ada apa?" Tanyaku sekali lagi. Kini Mama sedikit
melonggarkan tangannya yang berada pada pinggangku.
"Mama kenapa? Mama sakit? Atau Mama pusing? Ada apa, Ma?" Aku
sedikit merasa was-was karena Mama sama sekali tidak bergeming.
"Tidak ada apa-apa, sayang. Kamu kembali tidur saja ya. Mama tadi
hanya kangen sama kamu."
"Iya, Ma." Jawabku dengan senyuman. Dengan modal penerangan
cahaya bulan aku bisa melihat wajah Mama yang tampak lesu dan sedih.
"Ma? Apa Mama ada masalah?" Ucapku saat menarik tangannya
untuk berhenti bergerak keluar dari kamarku. Sedikit mengejutkan untukku saat
aku melihat Mama membalikkan tubuhnya ke arahku.
"Tidak apa, sayang. Mama bisa atasi ini."
“Just tell me mom. Mungkin aku
bisa membantu?”
“My dear Damara Oriana Admadja,
Mama tidak kenapa-kenapa sayang. Hanya sedikit lelah. Kamu istirahat saja ya.”
Ucapnya lirih. Aku tau bahwa nada bicaranya itu justru malah membuatku berfikir
yang tidak-tidak. Dengan ucapan Mama seperti itu yang seharusnya membuat aku
tidak merasa khawatir justru malah membuatku khawatir. Tapi, aku juga tidak
bisa memaksakan Mama.
Mama mengecup keningku dan mematikan lampu tidurku. Tidak menyadari
bahwa itu adalah malam terakhirku untuk melihat senyuman tulus dari Mama.
~*~
Suara tangis Mama membangunkanku pada pagi hari ini. Aku mendengar suara
ribut-ribut dari lantai 1. Perlahan-lahan aku menuruni anak-anak tangga dan
mengintip apa yang terjadi. Mama terduduk di sofa dengan Halmeoni yang berada di sebelahnya sambil memberikan pelukan. Hye
Jin duduk di kursi berhadapan dengan Mama dan ada 2 orang laki-laki berpakaian
hitam-hitam di sebelah Hye Jin. Semua orang mengerubungi Mama.
Ada apa? Mengapa Mama menangis? Apakah terjadi sesuatu? Kenapa ini?
“Mama...” Ucapku lirih. Aku rasa suaraku itu cukup untuk menarik
perhatian mereka semua. Saat aku memanggil Mama, semua serempak menengok ke
arahku.
“Ara? Kamu sudah bangun sayang?” Tanya Halmeoni. Dari sudut mata Halmeoni aku bisa melihat bekas
jejak-jejak air mata.
“Ada apa ini? Mama? Kenapa menangis? Somethings
wrong?”
Tidak ada yang menjawabku. Mereka hanya menatapku dengan penuh rasa
bersalah sekaligus kasihan. Kasihan?
“Kalau sudah bangun, sarapan dulu yuk. Aku sudah membuat nasi goreng kimchi*5(makanan korea yang terbuat
dari sawi) kesukaanmu.” Ajak Hye Jin.
Hye Jin menarik
tanganku, tapi aku tidak bergeming. Pasti ada yang salah disini. Tidak mungkin
tidak ada yang salah jika Mama menangis seperti itu. Selama 14 tahun aku tidak
pernah melihat Mama menangis seperti ini.
“Ma? Are you okay? What happened?” Tanyaku
sambil menghampiri Mama. Masih tidak ada jawaban.
“Jawab aku, Ma. Jangan
membuat aku merasa bingung seperti ini. Tolong..”
“Ara sayang, kamu
jangan ganggu Mama-mu dulu ya. Dia masih sedikit.. Shock. “
Shock? Shock karena apa? Mama masih tidak menatapku. Saat Mama
mengangkat wajahnya, aku melihat matanya sembab karena banyak menangis.
"Kita kembali ke Jakarta malam ini."
Malam ini kami kembali ke Jakarta. Mama bilang, kami batal merayakan
natal di Korea karena Mama ada kepentingan mendadak, jadi tahun ini kami hanya
bisa merayakan di Indonesia saja. Saat kami tiba di bandara Soekarno Hatta, aku
melihat Papa menunggu di lobi kedatangan. Tapi Papa tidak sendiri.
"Papa!" Ucapku riang sambil berlari memeluk Papa.
Papa membalas memelukku dan tertawa pelan. Aku melepaskan pelukanku,
tapi Mama langsung masuk ke dalam mobil sambil memasukkan koper. Apa aku bilang
tadi Papa tidak sendiri? Ya. Ada perempuan yang bersama Papa. Perempuan itu
terlihat seperti seumuran Mama, hanya saja sedikit lebih muda dan memiliki
rambut yang panjang dan sedikit ikal dibawahnya.
"Dia siapa?" Tanyaku pada Papa. Perempuan itu tersenyum
kepadaku.
"Kenalkan, saya Keza, pa--"
"Sekertaris Papa, sayang. Sudah, ayo naik ke dalam mobil."
Papa memotong ucapan perempuan tadi.
Aku masuk ke dalam mobil dan duduk di kursi belakang dengan Keza,
sedangkan Mama duduk di depan. Mama hanya diam tidak berbicara apa-apa. Tumben
sekali. Aku menyibukkan diriku bermain dengan gameboy-ku. Perjalanan terasa
sunyi, rasanya hampir berjam-jam untuk kami mencapai rumah. Saat sampai dirumah
Mama memintaku untuk masuk ke kamar dan segera tidur. Aku menurutinya.
Aku bergegas pergi ke lantai dua, dan berpamitan dengan Keza. Sebelum
aku sempat menutup pintu kamar, suara teriakan Mama terdengar di ruang tamu
lantai satu. Aku berniat untuk melihat apa yang terjadi, tapi Bi Sumi,
pengasuhku, menyuruhku bergegas masuk kamar. Saat aku masuk ke kamar, suara
Mama tidak terdengar lagi. Mungkin Mama sudah tidur.
Jam sudah menunjukkan pukul 2 pagi. Aku rasa aku harus segera tidur.
Lusa nanti aku harus kembali sekolah seperti biasa. Ya.. Liburanku dibatalkan
dan aku harus kembali sekolah.
~*~
Pagi ini aku terbangun pukul 9. Aku segera mandi dan mengganti pakaian
dengan pakaian main. Aku turun ke bawah, berniat untuk mencari Mama. Tapi Mama
tidak ada, kalau Papa pasti sudah berangkat kerja. Bi Sumi menghampiriku dan
mengatakan kalau sarapan sudah siap. Aku ke ruang makan dan mendapati Keza
sedang duduk di kursi makan yang biasa Mama duduki.
"Kenapa masih disini?" Tanyaku sedikit tidak sopan. Masa bodo
dengan kata-kataku, tapi memang aura Keza selalu membuatku risih.
"Pagi Damara. Sini duduk sebelah tante, kita sarapan
sama-sama." Ucapnya sambil mengulaskan senyuman.
Aku hanya menatapnya penuh tanya dan akhirnya duduk di tempatku.
"Tante ngapain disini? Baru datang?"
"Datang dari mana? Tante baru selesai mandi, terus tante mau
sarapan. Kata Bi Sum kamu juga baru bangun, jadi tante ajak sarapan
bareng."
Aku semakin bingung dengan jawabannya. Itu artinya dia tidak pulang? Apa
yang dia lakukan disini? Dan kenapa dia duduk di atas kursi favorit Mama?
"For your information, that
chair which you are sitting on right now is my mom's favourite spot."
Ucapku dengan nada suara lebih tinggi, tidak memperhatikan raut wajahnya yang
berubah.
"I know that."
"Then why are you still
sitting on that chair? Don't you have manner?"
"I do have. Tapi kursi
ini akan jadi spot favourite tante mulai sekarang." Jawab Keza dengan nada
sinis.
Apa maksud perempuan ini? Aku menghentikan makanku dan menatapnya.
Berniat untuk bertanya balik apa yang dia maksud, tapi tiba-tiba Mama datang.
"Damara, hurry finish your
food. We will going to the mall."
Untuk kali ini, kamu aman Keza. Cuih. Jijik sekali kalau aku harus
memanggil kamu dengan sebutan 'Tante'.
"Yes, mom."
Perjalanan aku dan Mama sangat sepi. Mama sama sekali tidak berbicara
saat perjalanan. Ia hanya sesekali menjawab pertanyaan yang aku tanyakan.
Bahkan ia tidak tertawa saat aku melontarkan lelucon. Ada yang salah disini.
Kami hanya berkeliling mall dan membeli beberapa persiapan natal. Mama
juga tidak belanja baju untuk natal. Biasanya kami selalu berbelanja kado natal
untuk aku dan Papa. Tapi kali ini Mama hanya sibuk mencari kebutuhan untuk
natal saja. Saat jam makan siang, Mama mengajak aku makan di resto Jepang di
dekat mall.
"Ma, Tante Keza semalam nggak pulang?" Tanyaku sambil
menyeruput jus apel kesukaanku.
"Dia tinggal dengan kita sekarang."
"How could she lives with us? Kenapa aku baru tau?"
"Kasian dia, baru bertengkar dengan suaminya dan sedang mengurus
surat cerai. Orangtua Tante Keza ada di Batam, kalau dia kembali ke Batam,
bagaimana pekerjaan dia?"
"Oh.."
Mama biasanya tidak suka ada orang lain yang tinggal bersama kita, tapi
kenapa sekarang ia membiarkan Keza tinggal bersama kami? Acara makan kami
kembali sunyi. Mama tidak berbicara. Ia hanya bermain dengan notebooknya. Aku
juga hanya sibuk dengan buku cerita Harry Potter yang baru Mama belikan.
"Seo Min-gi?" Suara familiar itu mengejutkan kami berdua.
Ahjussi*6(paman)!
"Seowoo?"
"Ah ternyata memang benar kamu Min-gi, aku kira aku salah melihat
orang." Ucap paman Seowoo.
"Apa kabar? Sedang di Indonesia?"
"Ya, tugas kantor, seperti biasa. Bagaimana kabarmu dan
David?"
"Baik, kamu dan Liyan?" Mama tersenyum sambil menjawab
pertanyaan Paman, tapi aku tau senyumannya itu adalah senyum paksa. Kemudian
Paman mengalihkan pandangannya ke arahku dan tersenyum.
"Apa kabar, Ara?" Tanya paman.
"Aku baik, Paman." Tersenyum lebar dan memamerkan gigi
putihku.
"Sayang sekali Rei tidak ikut ke Jakarta." Ucap paman sambil
mengelus puncak kepalaku.
"Ah kenapa Rei tidak ikut?"
"Sekolah di Seoul belum libur, kalau paman ajak dia ke Jakarta, sekolahnya
bagaimana?" Canda paman.
Paman kini bergabung dengan kami. Kami makan siang sambil
berbincang-bincang. Paman dan Mama lebih sering membicarakan soal pekerjaan
mereka masing-masing yang tentu saja masih aku tidak mengerti, dan aku hanya
diam sambil membaca buku Harry Potter-ku lagi. Mama dan Paman sempat berbicara
dengan serius, aku sempat mendengar beberapa kata yang terucap oleh Mama,
seperti: selingkuh, sekretaris, dan cerai. Yang aku tau dari cerai adalah
perpisahan diantara sepasang suami-istri, mereka tidak akan hidup bersama-sama
lagi.
Tanpa terasa hari sudah menjelang malam, Paman Seowoo pamit lebih dulu
karena ada rapat penting katanya. Aku dan Mama beranjak dari resto Jepang yang
kami kunjungi. Benar saja, rupanya memang sudah malam. Langit yang tadi
berwarna cerah kebiruan kini berubah menjadi hitam dengan dipenuhi
bintang-bintang kecil. Andai saja kami masih di Seoul malam ini.
Kami tiba di rumah pada pukul setengah Sembilan malam. Mobil Mercedes
Papa sudah terparkir di garasi rumah kami, rupanya Papa sudah pulang. Aku masuk
ke dalam rumah, saat aku tiba di ruang tengah, aku melihat Keza sedang berada
dalam pelukan Papa sambil menciumi pipi Papa. Aku mendengar suara banting pintu
di belakangku, rupanya Mama sudah kembali dari memarkirkan mobilnya. Papa dan
Keza yang mendengar suara banting pintu Mama langsung membebaskan diri dari
satu sama lain.
“Go to your room, Ara.” Kata Mama.
Uh oh, aku mencium sesuatu yang buruk akan terjadi. Tanpa pikir panjang,
aku langsung lari ke kamarku yang berada di lantai 2. Di atas sudah ada Bi Sumi
yang menungguku. Bibi menganggukkan kepalanya dan memintaku untuk masuk ke
kamar. Saat pintu kamarku tertutup, suara hingar bingar di bawah akhirnya
pecah, dan kini aku dapat mendengar jelas apa yang Mama katakan kepada Papa.
“Kita cerai! I will take Ara with me."
No comments:
Post a Comment